WARGA BELO PROTES: “INI LEWA MORI, BUKAN KALAKI!”
0 0
2 mins read

WARGA BELO PROTES: “INI LEWA MORI, BUKAN KALAKI!”

0 0
Read Time:2 Minute, 0 Second

Kabupaten Bima NTB – Sebuah insiden administratif dan komunikasi memicu reaksi keras dari warga Desa Belo, Kecamatan Palibelo. Keriuhan ini bermula saat Bupati Bima dan Ikadin Kabupaten Bima melakukan promosi wisata yang menyebut wilayah pesisir di jalur dua Desa Belo sebagai bagian dari kawasan Kalaki.

Warga setempat dengan tegas menyatakan keberatan dan meluruskan bahwa lokasi yang sedang naik daun tersebut memiliki identitas sendiri yang sakral dan historis, yakni Lewa Mori, bukan Kalaki yang secara administratif berada di wilayah berbeda.

Klaim Nama yang Berujung Kekecewaan
Sentimen warga muncul ketika promosi yang dilakukan oleh pihak Kabupaten seolah “mencaplok” keindahan Lewa Mori di bawah bayang-bayang nama Kalaki. Bagi warga Belo, Lewa Mori bukan sekadar titik koordinat, melainkan warisan sejarah yang memiliki magnet tersendiri.

“Kami bangga wilayah kami dipromosikan, tapi jangan salah sebut nama. Ini Lewa Mori Spot, aset Desa Belo. Menyebutnya sebagai Kalaki sama saja dengan mengaburkan identitas desa kami,” ujar salah satu warga yang hadir dalam kegiatan senam bersama, Minggu (15/2).

Identitas Lokal vs Promosi Global
Keberatan warga ini dinilai wajar, mengingat Pemerintah Desa (Pemdes) Belo di bawah pimpinan Akhmad Fansuri sedang gencar-gencarnya membangun branding Lewa Mori Spot sebagai ikon wisata mandiri.

Beberapa poin yang menjadi dasar keberatan warga antara lain:

* Letak Administratif: Jalur dua Lewa Mori berada sepenuhnya di wilayah Desa Belo, Palibelo.

* Nilai Sejarah: Nama Lewa Mori memiliki akar cerita rakyat dan sejarah lokal yang berbeda jauh dengan Kalaki.

* Kemandirian Ekonomi: Lapak UMKM dan pengelolaan wisata air yang sedang dirancang merupakan inisiatif Desa Belo untuk mendongkrak PAD desa secara mandiri.

Kades Belo: “Harus Ada Pelurusan Nama”
Menanggapi aspirasi warganya, Kepala Desa Belo, Akhmad Fansuri, berharap ada koordinasi yang lebih baik dalam penyebutan nama lokasi wisata. Ia menegaskan bahwa promosi yang dilakukan Pemerintah Kabupaten seharusnya memperkuat identitas lokal desa Belo, bukan malah menenggelamkannya.

“Agendanya kami memang sedang mempromosikan LEWA MORI sebagai ruang wisata desa. Kami ingin dunia tahu bahwa Belo punya Lewa Mori dengan segala keunikannya, termasuk view landing pesawat dan sunsetnya yang khas,” tegas Akhmad Fansuri.

Menjaga Marwah Desa Mandiri
Kejadian ini menjadi pelajaran penting bagi dinas terkait dalam melakukan promosi pariwisata. Warga berharap, ke depannya Lewa Mori diakui sebagai destinasi mandiri yang sejajar dengan destinasi besar lainnya di Kabupaten Bima, tanpa harus “menumpang” nama besar Kalaki.

Dengan dukungan Dana Desa 2026, Pemdes Belo berkomitmen terus memoles Lewa Mori dengan fasilitas Fiberglass dan spot foto terapung, demi membuktikan bahwa Lewa Mori adalah permata tersembunyi yang punya nama dan martabatnya sendiri.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *